LOMBOK TIMUR — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) memperkuat upaya pencegahan kekerasan fisik, kekerasan seksual, perundungan, dan pernikahan usia anak melalui edukasi di lingkungan sekolah.
Wakil Gubernur NTB sekaligus Ketua BKOW Provinsi NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE, M.Si, menyampaikan hal tersebut saat mengikuti sosialisasi dan dialog bersama siswa-siswi SMAN 1 Terara, Kabupaten Lombok Timur, Selasa (22/9/2026).
Angka Kekerasan Jadi Perhatian Bersama
Di hadapan guru dan pelajar, Umi Dinda menegaskan bahwa persoalan kekerasan dan masalah sosial di NTB perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, pencegahan harus dilakukan sejak dini agar kasus tidak terus bertambah dan sekolah dapat menjadi lingkungan yang aman bagi anak.
“Hari ini kita semua sadari, di Nusa Tenggara Barat kita memiliki angka yang cukup tinggi. Angka ini tidak boleh bertambah dan harus berhenti pada titik ini,” tegasnya.
Ia juga berharap tidak ada orang tua yang merasa khawatir ketika mengantar anak ke sekolah maupun ragu menitipkan anak kepada lembaga pendidikan.
Guru dan Siswa Punya Peran
Umi Dinda meminta tenaga pendidik tidak hanya menjalankan fungsi pengajaran, tetapi juga berperan dalam mengayomi siswa dan membangun lingkungan sekolah yang sehat.
Kepada para siswa, ia mengingatkan agar perbedaan latar belakang sosial tidak dijadikan alasan untuk merendahkan atau melakukan perundungan terhadap teman.
“Kalian di sini bukan untuk menunjukkan bahwa ‘Saya anak orang paling berada’ atau memiliki orang tua berpendidikan lebih tinggi. Anak-anakku semua hadir di sini untuk mengikat tali persaudaraan, persahabatan, dan menjadi satu kekuatan untuk menunjukkan prestasi yang membanggakan,” ujarnya.
Siswa Diminta Menjaga Pergaulan
Selain kekerasan dan perundungan, pencegahan pernikahan usia anak juga menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Umi Dinda mengingatkan para siswa agar masa sekolah dimanfaatkan untuk membangun pengetahuan, karakter dan prestasi sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.
Ia mengajak siswa menjaga diri dan pergaulan serta ikut menjadi bagian dari upaya pencegahan di lingkungan masing-masing.
“Jaga diri kalian, jaga pergaulan, dan yakinkan bahwa kalian harus menunjukkan prestasi sebelum menuju ke jenjang rumah tangga. Mari kita semua berkomitmen menjadi duta untuk menolak setiap bentuk kekerasan dan membatasi usia pernikahan,” pesannya.
SMAN 1 Terara Miliki 1.476 Siswa
Kepala SMAN 1 Terara, Halid, menyambut baik penguatan edukasi tersebut. Menurutnya, tanggung jawab sekolah tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik dan nonakademik, tetapi juga memastikan siswa belajar dalam lingkungan yang aman dan nyaman.
SMAN 1 Terara saat ini memiliki 1.476 siswa, 79 guru, dan 17 tenaga kependidikan. Jumlah warga sekolah tersebut membuat penguatan pencegahan kekerasan dan perlindungan anak menjadi bagian penting dalam pengelolaan lingkungan pendidikan.
Sosialisasi tersebut turut dihadiri Ketua GOW Lombok Timur Mahyu Wardani, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi NTB Syamsul Hadi, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi NTB Ashari, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB Lalu Hamzi Fikri, Kepala BKKBN Provinsi NTB Lalu Makripuddin, serta jajaran pengurus harian BKOW Provinsi NTB.
Sumber: Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (KominfotikNTB), 24 September 2026.