MATARAM, MbojoNow — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Indah Dhamayanti Putri, menekankan pentingnya peran keluarga dan lembaga pendidikan dalam menjaga keberlangsungan bahasa Sasak sebagai identitas budaya masyarakat Lombok.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka Kongres Internasional I Bahasa Sasak yang diselenggarakan Majlis Adat Sasak di Aula BPSDM NTB, Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Kegiatan ini dihadiri Ketua TP PKK NTB Hj. Sinta Agathia M. Iqbal, tokoh adat, akademisi, pemerhati budaya, serta sejumlah undangan. Kongres menjadi forum untuk bertukar gagasan dan merumuskan langkah strategis dalam pelestarian serta pengembangan bahasa Sasak bagi generasi mendatang.
Keluarga Berperan dalam Pewarisan Bahasa
Indah Dhamayanti Putri, yang akrab disapa Umi Dinda, menyampaikan bahwa pembelajaran bahasa Sasak melalui muatan lokal telah diterapkan di berbagai jenjang pendidikan. Namun, upaya tersebut perlu didukung dengan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan keluarga.
Menurutnya, keluarga merupakan ruang awal bagi anak untuk mengenal dan mewarisi bahasa ibu, adat istiadat, serta nilai budaya masyarakatnya.
“Kongres hari ini diharapkan mampu menyatukan berbagai pendapat dan memastikan bahasa baku yang dipergunakan. Kita semua yang hadir sebagai orang tua dalam lingkup rumah tangga bertanggung jawab untuk mengajarkan adat istiadat, khususnya adat budaya Sasak di Pulau Lombok,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa bahasa bukan hanya sarana komunikasi, tetapi juga media untuk mewariskan nilai, tradisi, dan pengetahuan lokal dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bahasa Sasak Didorong Menjadi Bahasa Ilmu Pengetahuan
Kongres yang berlangsung selama dua hari tersebut membahas sejumlah agenda, termasuk pelestarian bahasa Sasak melalui keluarga dan pendidikan, pengembangan bahasa agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, serta pemajuan kebudayaan sebagai kekuatan ekonomi.
Ketua Majlis Adat Sasak, Lalu Sajim Sastrawan, menilai perlu ada pembenahan mendasar dalam pengelolaan kehidupan kebudayaan dan bahasa Sasak agar mampu bertahan sekaligus berkembang.
Ia mengaitkan kongres tersebut dengan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Menurutnya, semangat persatuan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Sasak untuk memperkuat bahasa daerah tanpa mengesampingkan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
“Kita harus melakukan reformasi mendasar terkait tatanan hidup orang Sasak. Bahasa Sasak tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi sehari-hari, tetapi kita berikhtiar menjadikan bahasa Sasak sebagai bahasa ilmu pengetahuan, bahkan bahasa yang diajarkan di tingkat pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi,” ujarnya.
Lalu Sajim juga menyoroti berkurangnya penggunaan bahasa Sasak dalam kehidupan sehari-hari yang berpotensi menyebabkan hilangnya kekayaan kosakata daerah. Ia menyebut jumlah penutur bahasa Sasak diperkirakan mencapai sekitar 2,2 juta jiwa dan menilai pelestariannya membutuhkan upaya berkelanjutan.
Kongres Diharapkan Menghasilkan Rekomendasi
Umi Dinda berharap kongres tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas adat, dan keluarga.
Ia mengajak masyarakat menjaga bahasa Sasak, merawat budaya, dan mengembangkan kehidupan masyarakat agar identitas Sasak dapat terus berkembang di tengah perubahan zaman.
Kongres ini diharapkan menghasilkan langkah strategis untuk memperkuat pewarisan bahasa, memperluas pengembangannya dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan, serta mendukung pemajuan kebudayaan masyarakat Sasak.