Science Film Festival 2026 Ajak Pelajar Gunakan AI secara Bijak

Science Film Festival 2026 menghadirkan 20 film sains dari tujuh negara untuk mengenalkan kecerdasan artifisial kepada pelajar. Kemendikdasmen mendorong siswa mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab.

Science Film Festival 2026 Ajak Pelajar Gunakan AI secara Bijak

JAKARTA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong pelajar mengenal kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) serta menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab melalui Science Film Festival 2026. Festival yang diinisiasi Goethe-Institut tersebut resmi dibuka di Jakarta pada Selasa (6/10/2026).

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Peningkatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dan Kompetensi Guru, Maila Dinia Husni Rahiem, mengatakan kegiatan ini sejalan dengan Program STEM Nasional bertajuk “Berani Mencoba, Kreatif Mencipta”.

Menurut Maila, film sains dan eksperimen yang ditampilkan dalam festival dapat memantik ide kreatif peserta didik untuk mencoba dan mengembangkan hal-hal baru berdasarkan apa yang mereka pelajari.

“Jadi ini adalah suatu kegiatan yang saya pikir membuka atau sparkling ya, dari ide-ide cemerlang dari anak-anak Indonesia,” ujarnya.

Pembelajaran STEM Dorong Siswa Bereksperimen

Maila menjelaskan, pendekatan STEM mendorong guru menghubungkan materi pelajaran dengan persoalan nyata. Melalui metode ini, siswa diajak menyelidiki pertanyaan, melakukan eksperimen, serta merancang, menguji, dan memperbaiki solusi.

Pembelajaran STEM di sekolah juga dikembangkan berdasarkan prinsip 5M, yakni mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful.

Ia mengajak para pelajar membawa pertanyaan yang muncul selama festival ke sekolah untuk dibahas bersama teman-teman, mencoba pengetahuan yang diperoleh, serta membagikan hasil temuannya.

“Oleh karena itu, bawalah pertanyaan-pertanyaan kalian selama mengikuti festival ini, kemudian bawa kembali pertanyaan tersebut ke sekolah,” ujarnya.

AI Membawa Peluang dan Tantangan

Direktur Goethe-Institut untuk kawasan Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Constanze Michel, mengatakan kecerdasan artifisial semakin memengaruhi berbagai bidang, mulai dari industri, ekonomi, pendidikan hingga kehidupan sehari-hari.

Teknologi ini juga dimanfaatkan dalam pengembangan sains, perlindungan lingkungan, dan upaya menciptakan kehidupan yang lebih berkelanjutan. Namun, penggunaannya menghadirkan sejumlah tantangan, seperti persoalan pengelolaan data, transparansi, keadilan, serta dampak lingkungan dari kebutuhan energi komputasi berskala besar.

Constanze mengajak pelajar mengeksplorasi AI melalui film dan kegiatan festival, sekaligus memahami cara memanfaatkan teknologi tersebut secara bertanggung jawab untuk membantu mengatasi berbagai tantangan global.

Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, juga mengingatkan pentingnya berpikir kritis ketika menggunakan AI. Menurutnya, teknologi ini dapat membantu manusia dalam berkomunikasi, belajar, dan bekerja, tetapi juga berpotensi menghasilkan informasi keliru atau digunakan untuk manipulasi.

Karena itu, pelajar perlu memeriksa informasi yang diterima dan membedakan informasi nyata dari konten hasil rekayasa maupun manipulasi.

“We try to think. We try not to be naive. We think critically,” pesan Ralf Beste.

Diikuti Pelajar dari 70 Kabupaten dan Kota

Science Film Festival 2026 merupakan penyelenggaraan ke-17 di Indonesia. Festival berlangsung secara hybrid mulai 6 Oktober hingga 14 November 2026 dan menjangkau pelajar tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di 70 kabupaten dan kota.

Tahun ini, festival menghadirkan 20 film sains dari tujuh negara serta berbagai eksperimen yang dirancang untuk membuat pembelajaran sains lebih menyenangkan.

Salah satu peserta, Tubagus Muhammad Nazril Ardari, siswa SMA Negeri 3 Pandeglang, mengaku memperoleh pengetahuan baru mengenai AI setelah mengikuti festival. Ia mempelajari lebih jauh cara kerja ChatGPT dan teknologi AI lainnya, termasuk manfaat serta potensi kerugiannya.

Pengalaman tersebut juga membuat Nazril menyadari pentingnya menggunakan AI secara lebih bijak.

“Banyak informasi baru, Kak, yang saya ketahui karena melihat video itu,” kata Nazril.

Melalui festival ini, Kemendikdasmen bersama Goethe-Institut dan para mitra berharap pelajar semakin memiliki rasa ingin tahu, keberanian mencoba, kreativitas, serta kemampuan berpikir kritis. Pengenalan AI diharapkan tidak hanya membantu siswa memahami teknologi, tetapi juga mendorong mereka menggunakannya secara bertanggung jawab dan menilai informasi dengan cermat.

Sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Baca sumber asli.

#Pendidikan