AISOFOLL ke-17 Bahas Pemanfaatan Teknologi untuk Pembelajaran Bahasa dan Penguatan Karakter

Simposium AISOFOLL ke-17 di Jakarta diikuti 390 peserta dari 16 negara. Forum ini membahas pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bahasa, penguatan literasi, pengembangan karakter, serta pentingnya kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan kecerdasan artifisial.

AISOFOLL ke-17 Bahas Pemanfaatan Teknologi untuk Pembelajaran Bahasa dan Penguatan Karakter

JAKARTA, MbojoNow — Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bahasa menjadi fokus Annual International Symposium of Foreign Language Learning (AISOFOLL) ke-17 yang diselenggarakan SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) di Jakarta, Rabu (7/10/2026). Simposium ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan teknologi dengan penguatan literasi dan karakter peserta didik.

Mengusung tema “Shaping Future Generations: Strengthening Technology-Enhanced Language Teaching on Literacy and Character Development”, kegiatan tersebut mempertemukan guru, tenaga kependidikan, peneliti, dan praktisi pendidikan bahasa untuk bertukar pengetahuan mengenai pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan murid.

Guru Perlu Diperkuat dalam Pemanfaatan Teknologi

Pelaksana Tugas Biro Kerja Sama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Lukmanul Hakim, menekankan pentingnya peningkatan kapasitas guru dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Menurutnya, guru perlu mendapatkan kesempatan untuk memperkuat pengetahuan pedagogis sekaligus kemampuan memilih dan menggunakan teknologi secara tepat. Dukungan Kemendikdasmen terhadap pengembangan profesional guru mencakup Pembelajaran Mendalam, bahasa Inggris, literasi dan numerasi, kepemimpinan sekolah, serta bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Direktur SEAQIL, Brian Arieska Pranata, juga mengingatkan bahwa ketersediaan perangkat dan aplikasi belum cukup tanpa kemampuan untuk memanfaatkannya secara tepat.

Ia mendorong peserta simposium untuk berbagi pengalaman dan mengembangkan gagasan yang dapat diterapkan di kelas maupun lembaga masing-masing. Dalam pembelajaran bahasa, teknologi perlu membantu murid membaca secara kritis, berkomunikasi secara efektif, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.

Kecerdasan Artifisial Perlu Diimbangi Berpikir Kritis

Brian turut menyoroti penggunaan kecerdasan artifisial yang semakin memudahkan murid menghasilkan teks dan menemukan gagasan. Kemudahan tersebut, menurutnya, perlu diimbangi kemampuan memeriksa informasi, berpikir kritis, serta bertanggung jawab atas karya yang dihasilkan.

Pembelajaran bahasa juga dinilai berperan dalam menumbuhkan sikap saling menghormati dan kemampuan berkomunikasi di tengah keberagaman.

Sementara itu, salah satu pembicara utama, Aphiwit Liang-Itsara dari Mahidol University, Thailand, menekankan pentingnya menghubungkan penggunaan teknologi dengan motivasi dan tujuan murid dalam mempelajari bahasa.

Menurut Aphiwit, penggunaan aplikasi baru perlu diarahkan menjadi motivasi belajar yang berkelanjutan melalui kegiatan yang relevan dengan pengalaman dan kebutuhan peserta didik.

Diikuti 390 Peserta dari 16 Negara

AISOFOLL ke-17 menghadirkan enam pembicara utama dari berbagai institusi di dalam dan luar negeri, yaitu Amin Davoodi dari University of Wyoming, Amerika Serikat; Aphiwit Liang-Itsara dari Mahidol University, Thailand; Ju Seong Lee dari The Education University of Hong Kong, Cina; Ni Komang Arie Suwastini dari Universitas Pendidikan Ganesha, Indonesia; Suzanne Choo dari National Institute of Education, Nanyang Technological University, Singapura; dan Vinh To dari University of Tasmania, Australia.

Empat pembicara hadir secara langsung, sedangkan dua lainnya mengikuti kegiatan secara daring. Secara keseluruhan, simposium diikuti 390 peserta dari 16 negara di Asia, Eropa, dan Afrika. Sebanyak 45 peserta hadir secara luring dan 345 peserta mengikuti kegiatan secara daring.

Forum tersebut juga menghadirkan 12 pemakalah dari institusi di Indonesia, Malaysia, Timor-Leste, dan Taiwan. Makalah dipilih melalui proses penilaian terhadap 57 pengajuan dan direncanakan diterbitkan dalam Proceeding of AISOFOLL (PROCAIS).

Hasil penelitian dan praktik baik yang telah dipublikasikan dapat diakses oleh guru, tenaga kependidikan, peneliti, dan praktisi pendidikan bahasa melalui laman PROCAIS. Publikasi tersebut diharapkan menjadi referensi untuk mengembangkan pembelajaran bahasa dan memperluas pertukaran pengetahuan serta praktik pendidikan.

Sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah — AISOFOLL Ke-17 Dorong Pembelajaran Bahasa Berbantuan Teknologi untuk Penguatan Literasi dan Karakter.

#Pendidikan