Murid SNT 7 Bogor Kembangkan Proyek STEM dari Masalah Nyata

Murid SNT 7 Bogor mengembangkan sejumlah proyek STEM yang menggabungkan berbagai mata pelajaran untuk menyelesaikan persoalan kontekstual.

Murid SNT 7 Bogor Kembangkan Proyek STEM dari Masalah Nyata

JAKARTA — Murid Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor mengembangkan berbagai proyek berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) untuk menerapkan pengetahuan dalam menyelesaikan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sejumlah proyek yang dikembangkan antara lain wadah pelindung teks Proklamasi, rancangan ruang terbuka adaptif, hingga prototipe smart border berbasis sensor. Pembelajaran tersebut menggabungkan sejumlah mata pelajaran dalam satu proyek.

Proyek STEM di Jenjang SMP dan SMA

Kepala SNT 7 Bogor, Fitriyani, mengatakan pengembangan STEM dan pembelajaran interdisipliner menjadi bagian dari kekhasan SNT serta salah satu bagian penting dalam mewujudkan visi SNT.

Program tersebut mulai diterapkan setelah masa MPLS dan prastudi selesai, yakni pada awal pembelajaran SNT 7 Bogor pada September 2026.

Di jenjang SMP, salah satu proyek yang dijalankan adalah “Misi Kurir Kemerdekaan”. Proyek ini menggabungkan Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, dan Matematika.

Melalui proyek tersebut, murid mempelajari informasi mengenai kabar kemerdekaan dan Proklamasi Indonesia. Mereka juga menghitung luas bahan yang diperlukan untuk membuat wadah pelindung teks Proklamasi dari air dan tekanan selama perjalanan.

Sementara di jenjang SMA terdapat proyek “Site Plan Ruang Terbuka Adaptif”. Proyek ini menggabungkan IPA, Bahasa Indonesia, Matematika, dan PJOK. Murid kelas X menganalisis fenomena urban heat island, memodelkan data melalui diagram pencar, serta menyusun laporan multimodal untuk merancang ruang terbuka adaptif.

Prototipe Smart Border Berbasis Sensor

Proyek lainnya adalah “Teknologi Tapal Batas” yang memadukan Pendidikan Pancasila, Koding dan Kecerdasan Artifisial, Informatika, serta Fisika.

Dalam proyek tersebut, murid mempelajari kedaulatan NKRI, prinsip gelombang ultrasonik, pembuatan pseudocode, dan pemrograman Arduino. Hasilnya berupa prototipe smart border berbasis sensor yang dapat mendeteksi objek secara otomatis dan real time.

Fitriyani menyebut proses pembelajaran tersebut turut mengembangkan kemampuan murid dalam troubleshooting, berpikir logis dan sistematis, serta menerapkan pengukuran dalam kerja ilmiah.

“Perubahan yang terlihat dari murid setelah mengikuti pembelajaran STEM kususnya tema 4 adalah meningkatnya kemampuan troubleshooting, berpikir logis dan sistematis serta mampu menerapkan sistem pengukuran dalam kerja ilmiah melalui perancangan, pengukuran jarak menggunakan sensor ultrasonik, pengujian akurasi serta analisi faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran pada murid siswa SMA kelas X,” kata Fitriyani.

Menurut Fitriyani, pendekatan STEM juga membuat murid lebih aktif dalam proses belajar.

“Sebetulnya tepat sekali pendekatan STEM ini membuat anak aktif, antusias, ekploratif, inisiatif dan inovatif, kolaboratif, pada akhirnya pembelajaran mendalam yang diharapkan dapat terlaksana sesuai tujuan,” ujar Fitriyani.

Pembelajaran Interdisipliner Gabungkan Berbagai Mata Pelajaran

Selain STEM, SNT 7 Bogor menerapkan pembelajaran interdisipliner dengan menggabungkan sejumlah mata pelajaran untuk memahami persoalan secara lebih utuh.

Pada tingkat SMP terdapat tema “Bersama membangun digital positif” yang menggabungkan Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Informatika, dan Koding Kecerdasan Artifisial. Murid menganalisis isu etika digital dan membuat kampanye positif dalam bentuk poster atau infografis.

Ada pula tema “Bio Detective: Biodiversitas Tersembunyi” yang memadukan IPA dan Seni Rupa. Murid mengamati, mengidentifikasi, dan mengklasifikasikan keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah dengan memanfaatkan gawai serta kecerdasan artifisial seperti Gemini, Google Lens, dan Seek by iNaturalist.

Hasil pengamatan tersebut kemudian diolah menjadi infografis digital dan dipamerkan melalui gallery walk.

Fitriyani menjelaskan bahwa STEM, pembelajaran interdisipliner, dan pembelajaran mendalam memiliki keterkaitan. STEM menghadirkan persoalan secara kontekstual, pembelajaran interdisipliner memadukan berbagai disiplin ilmu untuk menyelesaikannya, sedangkan pembelajaran mendalam terbentuk ketika murid berpikir kritis untuk menciptakan solusi.

Berbagai proyek tersebut menjadi bagian dari pembelajaran di SNT 7 Bogor yang mendorong murid menggunakan konsep yang dipelajari untuk menganalisis persoalan, menguji gagasan, dan menghasilkan solusi.

Sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

#Pendidikan