JAKARTA — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan arah Indonesia menuju 2045. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Temu Generasi Muda Khonghucu di Jakarta, Sabtu (22/8).
Menurut Abdul Mu’ti, pendidikan tidak hanya bertujuan membekali generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan juga perlu membentuk karakter, kemampuan beradaptasi, serta kesadaran untuk hidup dan berkembang di tengah keberagaman.
“Kalau kita berbicara Indonesia 100 tahun, Indonesia 2045, 19 tahun ke depan, wajah Indonesia itu kalianlah yang menentukan,” ujar Abdul Mu’ti.
Empat Kekuatan Generasi Muda
Abdul Mu’ti mengatakan Kemendikdasmen berupaya membentuk generasi Indonesia yang memiliki kekuatan spiritual, fisik, intelektual, dan kepemimpinan. Keempat aspek tersebut dinilai penting agar generasi muda mampu menghadapi perubahan sekaligus berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Dalam aspek intelektual, generasi muda didorong menjadi pembelajar sepanjang hayat. Mereka perlu terus mempelajari hal baru, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta tidak takut menghadapi kegagalan.
“Kita punya generasi yang knowledgeable, generasi yang serba tahu, generasi yang serba bisa. Sebab kalau kita tidak bisa menguasai berbagai macam hal menyangkut perkembangan teknologi digital dan sebagainya, maka kita akan menjadi generasi yang bergantung pada orang lain. Dan karena itu kuncinya adalah kita menjadi pembelajar sepanjang hayat (long-life learner),” jelas Mendikdasmen.
Keberagaman sebagai Kekuatan
Selain kemampuan intelektual, pendidikan juga dinilai memiliki peran dalam memperkuat keindonesiaan. Keberagaman suku, etnis, bahasa, agama, dan budaya disebut sebagai kekayaan yang perlu dirawat bersama.
Abdul Mu’ti menekankan bahwa persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan. Sebaliknya, perbedaan perlu diterima dan dihormati sebagai kekuatan dalam kehidupan berbangsa.
“Bersatu itu tidak berarti meniadakan perbedaan. Persatuan itu tidak berarti penyeragaman. Persatuan adalah sikap di mana kita menerima, menghormati, dan menjadikan perbedaan sebagai modal untuk kita melaksanakan berbagai kebajikan dalam kehidupan kita,” jelasnya.
Dalam konteks pendidikan, sekolah juga menjadi ruang pertemuan bagi peserta didik dari berbagai latar belakang. Di lingkungan sekolah, mereka dapat saling mengenal, berintegrasi, dan membangun ikatan sebagai satu bangsa.
“Sekolah adalah tempat terjadinya pertemuan anak-anak bangsa yang berbeda-beda latar belakangnya. Saya menyebut dengan meeting point. Mereka bertemu, mereka berintegrasi, dan kemudian sekolah adalah tempat di mana terjadi melting point. Mereka punya latar belakang yang berbeda-beda tapi punya satu ikatan yang bernama Indonesia,” ungkap Mu’ti.
Generasi Muda dan Perubahan
Pesan tersebut sejalan dengan pelaksanaan Temu Generasi Muda Khonghucu yang menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar, bertukar gagasan, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri mengambil peran dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.
Ketua Pemuda Khonghucu Indonesia, Aristya, mengatakan generasi muda perlu terlibat dalam perubahan tanpa kehilangan jati diri.
“Pemuda Khonghucu tidak boleh hanya menjadi penonton dari perubahan ini. Kita harus menjadi bagian dari perubahan. Namun, menjadi bagian dari perubahan bukan berarti kita harus kehilangan jati diri. Justru di tengah perubahan zaman, nilai-nilai yang kita miliki menjadi semakin penting,” kata Aristya.
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), Budi Santoso, menyoroti pentingnya penguatan nilai kebajikan di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI).
Menurut Budi, kemajuan teknologi perlu diimbangi nilai-nilai kebajikan agar perkembangan tersebut tetap berpijak pada nilai kemanusiaan.
“Secara teknologi manusia sangat maju, tapi juga secara spiritual bukan harus agama, tapi nilai-nilai kebajikan akan menjadi fondamen kuat agar tidak terjadi manusia memakan manusia yang lain,” jelasnya.
Sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah