JAKARTA — Makna literasi berkembang seiring derasnya arus informasi dan kemudahan teknologi kecerdasan buatan (AI). Literasi tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga memahami informasi, mengevaluasinya, serta menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Ganjar Harimansyah, mengatakan aksara memperoleh makna ketika manusia mampu memahami dan menerapkannya dalam kehidupan.
Menurut Ganjar, proses membaca tidak berhenti pada mengenali huruf dan kata. Pengetahuan yang diperoleh perlu dipahami, dihubungkan dengan pengalaman, kemudian diterapkan.
“Ketika kita membaca, sebenarnya kita sedang menghimpun huruf-huruf yang berserakan menjadi bermakna. Kemudian kita memahami bagaimana kata itu dimaknai, dan lalu diimplementasikan,” ujar Ganjar.
Literasi Menuntut Kemampuan Memahami Informasi
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, menyebut pembaca perlu mampu memahami informasi yang tidak hanya tersurat, tetapi juga yang tersirat.
Kemampuan tersebut mencakup proses menginterpretasi, mengintegrasikan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi sebelum digunakan.
“Bukan tentang setuju-tidak setujunya, tetapi tentang bagaimana kita mampu berliterasi, kita paham betul isi bacaannya, baik yang tersurat maupun yang tersirat, kemudian kita mampu mengevaluasi isi bacaannya, dan kita mampu merefleksikannya dengan kehidupan di dunia nyata,” ujarnya.
Pentingnya Memeriksa Sumber Informasi
Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa, menilai tantangan literasi semakin kompleks di ruang digital. Kemudahan setiap orang dalam membuat dan menyebarkan informasi membuat kemampuan memeriksa informasi menjadi penting.
Ia mengatakan masyarakat perlu mempertanyakan tidak hanya isi sebuah informasi, tetapi juga pihak yang membuatnya, asal sumber, bukti yang digunakan, serta kemungkinan informasi tersebut untuk diverifikasi.
“Masyarakat bukan hanya perlu mampu bertanya, apa isi informasi ini? Tapi juga harus bisa mempertanyakan, siapa yang membuatnya? Dari mana sumbernya? Apa buktinya? Apakah dapat diverifikasi?” ujarnya.
Literasi di Tengah Perkembangan AI
Ketiga perspektif tersebut menempatkan literasi sebagai proses yang terus berlangsung. Pengetahuan tidak berhenti setelah seseorang membaca, tetapi digunakan untuk memahami dunia, memilah informasi, mengambil keputusan, dan bertindak.
Perkembangan AI membuat kemampuan tersebut semakin relevan karena informasi dapat dihasilkan dengan cepat. Di tengah kondisi itu, masyarakat tetap perlu memahami makna informasi dan menilai apa yang dapat dipercaya.
Literasi pada akhirnya berkaitan dengan kemampuan untuk terus belajar dan menghidupkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 28 September 2026.