BOGOR — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) akan menyelenggarakan The 5th International Conference on Tropical Biology (ICTB) 2026 pada 5–7 Oktober 2026 di IPB International Convention Centre, Bogor.
Konferensi tersebut mengusung tema “Biodiversity Beyond Boundaries: Advancing Global Education, Bio-Science, and Sustainable Landscapes”. ICTB 2026 ditujukan sebagai wadah bagi peneliti, akademisi, pendidik, praktisi, mahasiswa, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan untuk berbagi hasil penelitian serta membangun jejaring dan kolaborasi.
Empat Subtema ICTB 2026
Dalam pelaksanaannya, ICTB 2026 membahas empat subtema yang berkaitan dengan pendidikan, pengelolaan lingkungan, mata pencaharian, serta bioteknologi dan biodiversitas.
- Biodiversity Education through Geoparks, National Parks, and Landscape-Based Learning Systems.
- Sustainable Management of Sub-optimal Lands and Post-Mining Landscapes.
- Nature-Based Livelihoods.
- Biotechnology for Biodiversity, Environment, and Climate Change.
Direktur SEAMEO BIOTROP Edi Santosa mengatakan tantangan biodiversitas membutuhkan pendekatan yang melampaui batas wilayah dan disiplin ilmu.
“Biodiversitas tidak mengenal batas administratif. Karena itu, penguatan kerja sama penelitian, pendidikan, dan inovasi menjadi penting untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat mendukung pengelolaan sumber daya hayati secara berkelanjutan,” ujar Edi.
Terbuka untuk Publikasi Ilmiah
ICTB 2026 juga menyediakan peluang publikasi bagi peneliti dan akademisi. Makalah yang memenuhi persyaratan serta lolos proses seleksi dan peer review berkesempatan diterbitkan dalam prosiding terindeks Scopus, termasuk IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, maupun jurnal internasional terindeks Scopus yang bermitra dengan ICTB 2026.
Publikasi tetap mengikuti ketentuan dan kebijakan editorial masing-masing penerbit. Sementara itu, Call for Abstract ICTB 2026 masih dibuka hingga 30 September 2026 bagi peneliti dan akademisi dari Indonesia maupun mancanegara.
Edi Santosa mengatakan forum tersebut tidak hanya ditujukan untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga membuka peluang agar pengetahuan yang dihasilkan dapat terdokumentasi dan disebarluaskan melalui publikasi ilmiah dengan jangkauan lebih luas.
Deputi Direktur Bidang Program SEAMEO BIOTROP, Dr. Doni Yusri, menambahkan bahwa ICTB 2026 diharapkan menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, mendiseminasikan hasil penelitian, membangun jejaring, dan memperkuat kolaborasi.
Menurut Doni, konferensi tersebut diharapkan dapat menjembatani penelitian, pendidikan, inovasi, dan kebijakan sehingga pengetahuan tentang biodiversitas dapat memberikan kontribusi lebih luas bagi pengelolaan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Hadiri Pembicara Nasional dan Internasional
ICTB 2026 turut mengundang sejumlah tokoh nasional dan internasional sebagai keynote speakers. Mereka diharapkan memberikan perspektif mengenai biodiversitas, perubahan iklim, pengelolaan bentang alam berkelanjutan, serta pemanfaatan biodiversitas untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Tokoh yang diagendakan menjadi keynote speakers antara lain Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia; Mohammad Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup; Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat; Professor Piers Forster dari University of Leeds; Andrew Bovarnick dari United Nations Development Programme (UNDP); serta Karen Sack dari Ocean Risk and Resilience Action Alliance.
Perkuat Kerja Sama Regional
Penyelenggaraan ICTB 2026 menjadi bagian dari upaya Kemendikdasmen melalui SEAMEO BIOTROP untuk memperkuat kerja sama regional di bidang biologi tropis, biodiversitas, pendidikan, dan lingkungan.
Sebagai salah satu pusat regional SEAMEO di Indonesia, SEAMEO BIOTROP berperan dalam mendorong pengembangan kapasitas, penelitian, pendidikan, serta pertukaran pengetahuan terkait biodiversitas dan lingkungan tropis.
Melalui ICTB 2026, hasil penelitian dan pengalaman dari berbagai negara diharapkan dapat memperluas jejaring akademik, membuka peluang kolaborasi baru, serta memperkuat hubungan antara penelitian, pendidikan, inovasi, dan kebijakan.
Sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.