MATARAM, MbojoNow – Program Desa Berdaya yang menjadi salah satu program unggulan Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri mulai menunjukkan perkembangan melalui usaha peternakan di sejumlah desa.
Program ini dirancang untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa sekaligus mendorong penerima manfaat agar mampu mengelola usaha secara mandiri. Pelaksanaannya mencakup skema tematik dan transformatif dengan jenis usaha yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Muhamad Riadi, S.P., mengatakan perkembangan sejumlah usaha peternakan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Namun, keberlanjutan usaha bergantung pada komitmen pemerintah desa dan penerima manfaat dalam merawat serta mengembangkan usaha tersebut.
Usaha Ayam Petelur Dikembangkan di Sejumlah Desa
Dalam skema Desa Berdaya Tematik, peternakan ayam petelur menjadi salah satu kegiatan yang telah berjalan di beberapa wilayah.
Di Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, usaha ayam petelur dengan populasi 1.000 ekor didukung anggaran Rp300 juta untuk pembangunan kandang, pengadaan ayam pullet, dan pakan. Pengelolaannya dilakukan langsung oleh pemerintah desa.
Sementara itu, usaha ayam petelur di Desa Kalijaga, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur, memiliki populasi 1.000 ekor dan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Persentase produksinya tercatat mencapai 74 persen.
Di Desa Cendimanik, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, usaha dengan populasi serupa dilaporkan mencatat produksi di atas 70 persen. Telur yang dihasilkan dipasarkan melalui pengepul.
Perkembangan berbeda tercatat di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Usaha ayam petelur dengan populasi 500 ekor yang dikelola BUMDes memiliki persentase produksi 10 persen. Kegiatan ini didukung anggaran Rp132,958 juta, sedangkan sisa alokasi diperuntukkan bagi pengembangan usaha bertema pariwisata.
Peternakan Sapi dan Bantuan untuk Keluarga Rentan
Pengembangan usaha peternakan juga dilakukan melalui sapi. Desa Kumbang mengembangkan 12 ekor sapi jenis Limousin dan Simmental melalui kerja sama pemerintah desa dengan peternak menggunakan sistem bagi hasil.
Adapun Desa Jagaraga, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat, menjalankan usaha penggemukan sapi dengan dukungan anggaran Rp300 juta yang dikelola BUMDes.
Pada skema Desa Berdaya Transformatif di Desa Lendang Nangka Utara, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, program secara khusus menyasar keluarga miskin ekstrem. Melalui dukungan pendanaan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), setiap keluarga sasaran memperoleh bantuan senilai Rp7 juta.
Bantuan tersebut berupa 32 ekor ayam petelur, kandang, serta pakan untuk dua bulan. Dukungan ini dirancang sebagai modal usaha produktif untuk membantu menambah pendapatan keluarga dan mendorong kemandirian ekonomi.
Dalam peninjauan lapangan pada 14 Oktober 2026, kondisi ayam dan kandang turut diperiksa, disertai diskusi mengenai pemeliharaan ternak. Pendampingan menjadi bagian penting agar penerima bantuan mampu merawat ternak dan menjaga keberlanjutan usaha.
Pendampingan Jadi Kunci Keberlanjutan
Riadi menekankan bahwa usaha yang telah direalisasikan perlu dijaga dan dikembangkan melalui pengelolaan yang konsisten, pendampingan berkelanjutan, serta upaya meningkatkan produktivitas.
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau jumlah ternak yang disalurkan, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah desa dan penerima manfaat dalam mempertahankan usaha agar tetap berjalan dan menghasilkan pendapatan.
Pemerintah Provinsi NTB berharap usaha peternakan dalam Program Desa Berdaya dapat berkembang menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi keluarga dan masyarakat desa.
Sumber: Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, KominfotikNTB, 20 Oktober 2026 – Desa Berdaya Iqbal-Dinda, dari Bantuan Menuju Kemandirian.